Acara ini menjadi bagian dari realisasi program strategis Kementerian Agama RI 2025–2029 yang fokus pada penguatan kerukunan antarumat dan pengembangan nilai cinta kasih dalam kehidupan berbangsa.
Dalam sesi panel yang dipandu oleh H. Mallingkai Ilyas, Lc, Ketua Tim Bina Lembaga dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Sulsel, dibahas bahwa akar konflik sosial tidak selalu berbasis agama. Namun, isu agama kerap digunakan untuk memperbesar dampak konflik di ruang publik.
“Sering kali bukan agamanya yang jadi masalah, tapi agama disebut-sebut agar konflik jadi viral dan diperhatikan secara nasional,” ujarnya membuka diskusi.
Pembicara pertama, Wakapolres Sidrap KOMPOL Sulkarnain, menegaskan bahwa Polri hadir sebagai pelindung seluruh masyarakat tanpa membeda-bedakan latar belakang agama.
“Kegiatan sosial dan keagamaan hanya dapat berjalan dengan baik jika situasi aman. Maka menjaga kerukunan adalah bagian dari tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Sementara itu, Kapten Inf. Abd. Rajab, mewakili Dandim 1420 Sidrap, menyoroti pentingnya kolaborasi lintas agama dalam menciptakan suasana damai di tengah keberagaman yang dimiliki Sidrap.
Kepala Bagian TU Kanwil Kemenag Sulsel, H. Aminuddin, menyoroti peran strategis para tokoh agama dalam menanamkan nilai toleransi. Ia menyampaikan bahwa Kementerian Agama tengah mendorong kurikulum cinta di seluruh lini pendidikan.
“Semua agama berpijak pada cinta. Itulah titik temunya. Kita perlu mendekatkan umat dengan agama mereka masing-masing melalui pendekatan yang penuh kasih,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya etika berkomunikasi di media sosial agar tidak menjadi sumber perpecahan, melainkan sarana untuk menyebarkan pesan-pesan damai dan sejuk.
Dalam sesi dialog, Andi Jamal, tokoh MUI sekaligus pimpinan pondok pesantren di Sidrap, mengingatkan akan pentingnya menjaga moralitas publik, termasuk mengkritisi hiburan malam yang bisa menjadi pemicu ketimpangan nilai.
Sementara itu, perwakilan umat Kristen mengungkapkan rasa syukur atas keterlibatan aktif komunitas Nasrani dalam program FKUB. Ia menekankan bahwa kerukunan bukan berarti menyeragamkan, tapi saling menghargai dalam keberagaman.
Hal senada disampaikan oleh tokoh umat Hindu Tolotang, yang menekankan pentingnya menjaga keharmonisan tak hanya di dunia nyata, tapi juga di ruang digital. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat agar tidak terjebak dalam pusaran hoaks dan ujaran kebencian.
Kegiatan ini menjadi wadah strategis dalam merawat semangat kebersamaan antarumat beragama. Lebih dari sekadar forum dialog, Selebrasi Kerukunan ini merupakan pengingat bahwa cinta kasih, penghormatan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab sosial adalah fondasi utama bangsa yang plural.