Pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-79, doa yang dipanjatkan oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menjadi sorotan publik. Tulisan ini mencoba mencermati petikan doa pada bagian "Ya Mu'izzu, Ya Mudzillu" yang bermakna "Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghinakan". Di dalamnya terselip harapan agar para pemimpin Indonesia senantiasa diberi cahaya petunjuk dalam akal, hati, dan jiwa pemimpin negeri. Namun, bagaimana kita memaknai doa ini dalam konteks kerukunan umat beragama di Indonesia?
Dengan menyebut "Ya Mu'izzu, Ya Mudzillu", Yaqut mengingatkan kita bahwa dalam setiap kepemimpinan, ada kekuatan Ilahi yang mengarahkan. Permintaan agar para pemimpin diberi "cahaya petunjuk" adalah doa universal yang bisa diterima oleh semua orang, tanpa memandang agamanya. Bukankah kita semua menginginkan pemimpin yang bijaksana, adil, dan berintegritas?
Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, penting bagi kita untuk melihat substansi dari sebuah doa, bukan sekadar terminologi yang digunakan. Apa yang Gusmen sampaikan adalah pesan moral yang mengajak kita semua untuk bersatu, menghormati perbedaan, dan bersama-sama membangun bangsa.
Sebagai warga negara yang hidup dalam kebhinekaan, kita harus mampu memaknai doa ini sebagai panggilan untuk saling menghormati dan bekerja sama. Dengan demikian, doa di Hari Kemerdekaan ini bukan hanya menjadi ritual semata, tetapi juga sebuah seruan untuk memperkokoh persatuan di tengah perbedaan.
Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan semangat kebhinekaan, kita bisa mewujudkan cita-cita bangsa. Mari kita jadikan doa ini sebagai pengingat bahwa di atas segalanya, kita adalah satu bangsa, satu tanah air, dan satu Indonesia.