Doa Menteri Agama di Hari Kemerdekaan: Simbol Kerukunan Umat Beragama

   2024-08-21     Dilihat : 506

Pada peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-79, doa yang dipanjatkan oleh Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, menjadi sorotan publik. Tulisan ini mencoba mencermati petikan doa pada bagian "Ya Mu'izzu, Ya Mudzillu" yang bermakna "Yang Maha Memuliakan, Yang Maha Menghinakan". Di dalamnya terselip harapan agar para pemimpin Indonesia senantiasa diberi cahaya petunjuk dalam akal, hati, dan jiwa pemimpin negeri. Namun, bagaimana kita memaknai doa ini dalam konteks kerukunan umat beragama di Indonesia?

Indonesia adalah negara dengan keragaman agama yang kaya. Hari Kemerdekaan menjadi momen di mana seluruh rakyat dari berbagai latar belakang agama merayakan persatuan dan kesatuan bangsa. Di tengah perayaan ini, doa Menteri Agama seolah menjadi pengingat akan pentingnya kebersamaan dan toleransi.

Dengan menyebut "Ya Mu'izzu, Ya Mudzillu", Yaqut mengingatkan kita bahwa dalam setiap kepemimpinan, ada kekuatan Ilahi yang mengarahkan. Permintaan agar para pemimpin diberi "cahaya petunjuk" adalah doa universal yang bisa diterima oleh semua orang, tanpa memandang agamanya. Bukankah kita semua menginginkan pemimpin yang bijaksana, adil, dan berintegritas?

Meskipun doa ini berakar dalam tradisi Islam, esensinya adalah inklusivitas. Ketika Yaqut memohon kemuliaan dan bimbingan bagi para pemimpin, Gus Men berbicara atas nama seluruh rakyat Indonesia. Doa ini bukan hanya untuk satu kelompok, tetapi untuk semua—muslim, kristen, hindu, buddha, Konghucu, dan penghayat kepercayaan.

Dalam masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, penting bagi kita untuk melihat substansi dari sebuah doa, bukan sekadar terminologi yang digunakan. Apa yang Gusmen sampaikan adalah pesan moral yang mengajak kita semua untuk bersatu, menghormati perbedaan, dan bersama-sama membangun bangsa.

Di tengah dinamika sosial yang kompleks, kerukunan umat beragama sering kali diuji. Doa seperti yang disampaikan Menteri Agama dapat menjadi jembatan yang memperkuat hubungan antaragama. Namun, hal ini hanya bisa tercapai jika kita semua—baik pemerintah maupun masyarakat—mampu melihat nilai-nilai kebersamaan yang diusung.

Sebagai warga negara yang hidup dalam kebhinekaan, kita harus mampu memaknai doa ini sebagai panggilan untuk saling menghormati dan bekerja sama. Dengan demikian, doa di Hari Kemerdekaan ini bukan hanya menjadi ritual semata, tetapi juga sebuah seruan untuk memperkokoh persatuan di tengah perbedaan.

Hari Kemerdekaan adalah waktu yang tepat untuk merenungkan perjalanan bangsa dan menatap masa depan dengan penuh harapan. Doa yang dipanjatkan Gusmen adalah bagian dari upaya untuk memastikan bahwa Indonesia tetap menjadi negara yang damai dan harmonis.

Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila dan semangat kebhinekaan, kita bisa mewujudkan cita-cita bangsa. Mari kita jadikan doa ini sebagai pengingat bahwa di atas segalanya, kita adalah satu bangsa, satu tanah air, dan satu Indonesia.

Penulis : Adnan A. Saleh | Editor : Ade