Doa Gusmen di Tengah Peralihan Kepemimpinan Negeri: Menyatukan Langkah Menuju Nusantara Baru dan Pilkada Damai

   2024-08-21     Dilihat : 370

Pada peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, Menteri Agama RI, Yaqut Cholil Qoumas, mengangkat doa yang penuh makna: “Ya Hadi, Ya Alim, Bimbing dan pandu kami melewati masa-masa peralihan ini agar bisa bergerak menuju kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan, menyatukan segala gerak, langkah, dan tekad dalam mewujudkan Nusantara Baru, Indonesia Maju tanpa rintangan.”

Doa ini tidak hanya menjadi simbol harapan spiritual, tetapi juga mencerminkan tantangan nyata yang dihadapi bangsa kita saat ini, terutama dengan adanya perpindahan ibu kota negara (IKN) ke Nusantara, Kalimantan Timur dan momentum Pergantian Presiden dari Bapak Joko Widodo ke Bapak Prabowo Subianto serta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang semakin dekat.

Perpindahan Ibu Kota: Simbol Perubahan dan Tantangan Kerukunan

Perpindahan ibu kota dari Jakarta ke Nusantara di Kalimantan Timur adalah salah satu proyek terbesar dalam sejarah Indonesia. Ini bukan hanya tentang memindahkan pusat pemerintahan, tetapi juga tentang membangun sebuah Nusantara Baru yang menjadi simbol kemajuan, keberlanjutan, dan kesatuan. Namun, perpindahan ini juga menghadirkan tantangan besar, terutama dalam menjaga kerukunan di tengah masyarakat yang beragam.

Doa “Ya Hadi, Ya Alim” yang disampaikan Menteri Agama menjadi relevan dalam konteks ini. "Hadi" sebagai Sang Pemberi Petunjuk dan "Alim" sebagai Yang Maha Mengetahui, mengingatkan kita bahwa dalam setiap langkah perubahan, bimbingan dan pengetahuan adalah kunci untuk mencapai tujuan yang adil dan sejahtera. Perpindahan ibu kota ini harus dilakukan dengan memperhatikan keragaman budaya dan agama yang ada di wilayah baru, serta memastikan bahwa semua pihak merasa dilibatkan dan dihargai.

Di Nusantara yang baru, kerukunan umat beragama harus tetap menjadi prioritas. Perpindahan ibu kota memberikan kesempatan bagi Indonesia untuk menampilkan model kota yang inklusif, di mana masyarakat dari berbagai latar belakang agama hidup berdampingan dengan damai. Ini adalah tantangan yang harus kita hadapi bersama, dengan doa sebagai penuntun agar setiap langkah yang diambil membawa kita lebih dekat kepada keadilan dan kesejahteraan.

Pilkada: Momen untuk Memperkuat Kerukunan dan Persatuan

Selain perpindahan ibu kota, Pilkada yang akan datang juga menjadi ujian penting bagi kerukunan umat beragama di Indonesia. Pemilihan kepala daerah sering kali menjadi momen yang rawan konflik, terutama jika isu agama digunakan untuk memecah belah masyarakat. Di sinilah pentingnya seruan dalam doa Menteri Agama untuk “menyatukan segala gerak, langkah, dan tekad” dalam mewujudkan Indonesia yang maju tanpa rintangan.

Doa ini mengingatkan kita bahwa Pilkada seharusnya menjadi ajang demokrasi yang memperkuat persatuan, bukan sebaliknya. Para calon kepala daerah, pemilih, dan seluruh elemen masyarakat harus menjadikan nilai-nilai kerukunan dan toleransi sebagai landasan dalam setiap proses politik yang berlangsung. Memilih pemimpin bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi soal memastikan bahwa siapa pun yang terpilih akan memimpin dengan keadilan dan memperhatikan kepentingan semua pihak, tanpa memandang agama atau etnisitas.

Menyatukan Langkah Menuju Nusantara Baru dan Demokrasi yang Damai

Di tengah masa peralihan ini, baik dalam konteks perpindahan ibu kota maupun Pilkada, penting bagi kita semua untuk menjaga kerukunan umat beragama. Nusantara Baru yang kita cita-citakan tidak akan terwujud jika kita terpecah-belah oleh isu-isu yang merusak persatuan. Sebaliknya, kita harus menyatukan langkah dan tekad untuk memastikan bahwa setiap perubahan yang terjadi membawa kita ke arah yang lebih baik.

Doa Menteri Agama ini adalah seruan untuk bersama-sama mengatasi setiap rintangan dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati. Dengan bimbingan ilahi dan semangat gotong royong, kita bisa menghadapi masa-masa peralihan ini dengan optimisme, memperkuat kerukunan, dan bergerak menuju Indonesia yang lebih adil, sejahtera, dan maju.

Perpindahan ibu kota dan Pilkada adalah dua momen penting yang akan menentukan arah masa depan Indonesia. Dalam menghadapi perubahan besar ini, kerukunan umat beragama harus tetap menjadi landasan utama. Dengan doa sebagai penuntun dan komitmen untuk menjaga persatuan, kita dapat mewujudkan Nusantara Baru dan demokrasi yang damai, di mana kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita jadikan doa ini sebagai pengingat bahwa dalam setiap langkah yang kita ambil, kita tidak hanya berjuang untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk masa depan bangsa yang lebih baik. Bersama-sama, kita bisa mewujudkan Indonesia Maju tanpa rintangan.

Penulis : Adnan A. Saleh | Editor : Ade